BerandaBANUABanjarmasinHangatnya Ramadhan di Banjarmasin, Susur Sungai Martapura Usai Berburu Takjil di Siring...

Hangatnya Ramadhan di Banjarmasin, Susur Sungai Martapura Usai Berburu Takjil di Siring 0 KM

LANGKAR.ID, BANJARMASIN – Langit mulai berwarna jingga ketika adzan Magrib usai berkumandang. Satu per satu lampu hias menyala di kawasan Siring 0 KM, menghadirkan suasana hangat khas Ramadhan di Banjarmasin.

Aroma wadai tradisional dan gorengan masih terasa di udara. Pengunjung tampak duduk berkelompok, menikmati hidangan berbuka yang baru saja dibeli dari stan-stan Festival Pasar Wadai Ramadhan. Namun bagi sebagian orang, malam belum benar-benar usai setelah perut terisi.

Di tepian Sungai Martapura, deretan kelotok sudah menunggu. Mesin perahu kayu khas Banjar itu meraung pelan, seolah mengajak siapa pun untuk merasakan sisi lain Ramadhan—menikmati kota dari atas air.

Frida (16), remaja asal Banjarmasin, memilih menghabiskan malam bersama teman-temannya dengan cara sederhana: susur sungai. Setelah puas berburu takjil di Festival Pasar Wadai, mereka berjalan ke dermaga kecil dan menaiki kelotok.

“Setelah keliling di Pasar Wadai, kami lanjut naik kelotok untuk susur sungai. Rasanya sayang kalau langsung pulang,” ujarnya, Jumat (27/2/2026) malam.

Bagi Frida, susur sungai bukan pengalaman baru. Namun suasana Ramadhan membuat semuanya terasa lebih istimewa. Angin malam berembus lembut, memantulkan cahaya lampu kota di permukaan air. Dari kejauhan terdengar tawa penumpang lain, bersahut dengan bunyi khas mesin kelotok yang mengantar perahu melaju perlahan.

Sesekali kelotok melintas di bawah cahaya jembatan yang berkilau, menghadirkan momen hening yang justru terasa menenangkan. Di sela obrolan ringan dan canda, ada rasa kebersamaan yang tumbuh tanpa disadari.

“Biasanya memang sering susur sungai. Tapi kalau momennya Ramadhan, apalagi habis dari Pasar Wadai, rasanya lebih hangat,” katanya sambil tersenyum.

Bagi Frida dan banyak remaja lainnya, perjalanan singkat itu bukan sekadar wisata. Ada kebanggaan tersendiri menyaksikan sungai—yang menjadi urat nadi kota—tetap hidup dan ramai oleh tawa warganya.

“Alhamdulillah ulun (saya) dan kawan-kawan sangat menikmatinya,” tuturnya.

Festival Pasar Wadai Ramadhan kini bukan hanya tentang kuliner berbuka puasa. Ia telah menjadi ruang temu lintas generasi—tempat keluarga, sahabat, hingga komunitas berbagi cerita dan menciptakan kenangan.

Di tepian Sungai Martapura, Ramadhan terasa lebih hidup. Bukan hanya karena ramainya pengunjung, tetapi karena hangatnya kebersamaan yang mengalir pelan, setenang air sungai yang terus bergerak di bawah langit malam Banjarmasin. (L212)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

BACA JUGA