BerandaAdvertorialHomeless Media Makin Digandrungi, Era AI Tantang Wartawan Tetap Pegang Etika

Homeless Media Makin Digandrungi, Era AI Tantang Wartawan Tetap Pegang Etika

LANGKAR.ID, SURABAYA — Siapa yang lebih cepat menyampaikan informasi: wartawan atau akun media sosial dengan ratusan ribu pengikut? Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan menarik dalam Media Gathering Bank Kalsel di Surabaya, Kamis (3/9/2026).

Fenomena homeless media yang semakin marak hingga perkembangan artificial intelligence (AI) menjadi sorotan dalam agenda rutin Bank Kalsel tersebut. Puluhan insan media asal Kalimantan Selatan mengikuti kegiatan yang mempertemukan Bank Kalsel dengan para mitra pemberitaan.

Redaktur Tempo.co, Mitra Tarigan, tampil sebagai pembicara utama. Hadir pula Direktur Operasional Bank Kalsel Iwan, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Kalsel Firmansyah, Kepala Divisi Konsumer Bank Kalsel Agus Setiawan, serta jajaran manajemen Bank Kalsel lainnya.

Mitra mengatakan keberadaan homeless media tidak bisa lagi diabaikan. Bahkan, sebuah akun Instagram yang dikelola homeless media bisa memiliki hingga 500 ribu pengikut dan menjadi salah satu sumber informasi masyarakat setiap hari.

Di sisi lain, portal berita lokal bisa saja hanya menjangkau sekitar 50 ribu pembaca.

Kondisi tersebut menunjukkan perubahan besar dalam pola konsumsi informasi masyarakat. Kecepatan dan kedekatan dengan lokasi kejadian menjadi keunggulan homeless media.

Menurut Mitra, Dewan Pers juga tengah memproses draf usulan peraturan yang berkaitan dengan homeless media dan media sosial.

Namun, keberadaan homeless media tidak selalu menjadi ancaman bagi media konvensional. Sebaliknya, konten mereka dapat menjadi radar awal bagi wartawan untuk menemukan sebuah isu.

“Bagi media konvensional, informasi dari homeless media bisa menjadi bahan pemberitaan. Mereka berada di lokasi, mendapatkan video pertama, mengetahui isu yang sedang dibicarakan warga dan bisa menjadi radar bagi wartawan,” ujar Mitra.

Meski demikian, ia menegaskan terdapat perbedaan mendasar antara homeless media dan kerja jurnalistik.

“Bedanya mereka berhenti pada konten. Wartawan seharusnya melanjutkan dengan verifikasi, konteks, konfirmasi dan pertanggungjawaban,” katanya.

AI Bukan Pengganti Wartawan

Selain homeless media, perkembangan AI menjadi pembahasan yang tidak kalah menarik.

Mitra menilai pertanyaan bagi jurnalis saat ini bukan lagi soal perlu atau tidak menggunakan AI. Persoalan utamanya justru terletak pada bagaimana jurnalis memanfaatkan teknologi tersebut tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik.

Menurut dia, AI tidak serta-merta menggantikan posisi jurnalis. Teknologi tersebut justru dapat menjadi rekan kolaborasi untuk membantu pekerjaan jurnalistik.

“Jurnalis tetap memegang peran teknis dan operasional untuk memverifikasi fakta, memitigasi kesalahan, serta menjadi pengambil keputusan akhir dari output yang diberikan,” jelasnya.

Karena itu, jurnalis tetap membutuhkan kemampuan yang tidak bisa begitu saja digantikan mesin. Empati, nilai kemanusiaan, penilaian etika, serta pemikiran kritis tetap menjadi bagian penting dalam proses jurnalistik.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah jurnalis menyampaikan pertanyaan dan kekhawatiran terkait perkembangan AI, termasuk potensi munculnya produk jurnalistik yang menggunakan AI tetapi justru menghadapi persoalan hak cipta.

“Pembuat konten perlu memberikan informasi apabila sebuah produk dibuat dengan bantuan AI, terutama untuk produk video, foto, dan suara,”pungkas Mitra.(L212)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

BACA JUGA