LANGKAR.ID, Banjarmasin – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) meminta pemerintah daerah untuk aktif mengaktifkan kembali atau meningkatkan pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Reduce-Reuse-Recycle (3R) untuk mengatasi masalah sampah.
Hal tersebut menyusul rencana pemanfaatan teknologi Waste to Energy (WTE). Teknologi ini diyakini mampu memangkas volume sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.
“Sampah bisa dirubah menjadi energi terbarukan dengan tekonologi WTE, hanya saja pemerintah daerah harus memenuhi klasifikasi pengelolaan sampah”ujar Plt Deputi Pengelolaan Sampah Limbah dan B3, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar lembaga Pusat dan Daerah, Hanifah Dwi Nirwana, Senin (17/11/2025)
Hanifah juga menjelaskan saat ini Kalsel masih belum masuk klasifikasi daerah yang siap membangun metode pengolahan sampah menjadi energi melalui proses termal modern.
“Kalsel masih belum siap, secara volume juga masih belum mencapai 1000/ton perhari, jadi lebih baik maksimalkan yang ada saja dulu”katanya usai menyambut kedatangan Pressroom Pemprov Kalsel di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta,
Ia menerangkan teknologi WTE bekerja dengan cara membakar sampah dalam insinerator modern. Panas pembakaran kemudian mengubah air menjadi uap, dan uap tersebut memutar turbin yang menghasilkan listrik, layaknya pembangkit listrik konvensional.
Didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Rahmat Prapto Udoyo, Hanifah menegaskan bahwa WTE sudah terbukti efektif di berbagai negara.
“Beberapa daerah di Indonesia juga sudah mulai memanfaatkan teknologi ini, seperti Bali dan beberapa daerah lainnya,” ucapnya.
Namun, ia menekankan bahwa teknologi WTE membutuhkan investasi besar dan kapasitas sampah minimal 1.000 ton per hari.
“Jika kurang dari itu, proyek ini sulit dijalankan,” tambahnya, juga didampingi Kepala Biro Adpim, Barkatullah.
Selain kapasitas sampah, proyek WTE juga memerlukan lahan TPA yang luas serta ketersediaan air di lokasi untuk menunjang proses pengolahan.
Hanifah berharap Kalimantan Selatan dapat menerapkan teknologi tersebut apabila produksi sampah sudah mencapai syarat minimal. “Soal biaya, Kalsel kan kaya, banyak tambang batubara,” selorohnya.
Berdasarkan catatan, proses WTE dapat mengurangi volume sampah hingga 87 persen dan menghasilkan abu jauh lebih sedikit dibandingkan sampah awal. Selain mampu mengurangi beban TPA, teknologi ini juga menghasilkan listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Sementara itu, kegiatan press tour wartawan Pemprov Kalsel berlangsung selama tiga hari. Selain menggali pengalaman jurnalistik, rombongan juga menghadiri sejumlah agenda di JCC Jakarta.(L212)

