LANGKAR.ID, BANJAR — Pipa transmisi utama air baku Banjarbakula mengalami kebocoran di Sei Landas, Desa Mandikapau, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Balai Pengelolaan Air Minum (BPAM) Banjarbakula menargetkan perbaikan rampung dalam 5-10 hari.
Kebocoran terjadi pada pipa berdiameter 1.200 milimeter. Untuk menghentikan aliran menuju titik kebocoran, petugas langsung mematikan pompa Intake Mandikapau dan menutup sejumlah valve yang terhubung dengan jalur tersebut.
Kepala BPAM Banjarbakula Siddiq Wahyu Pamungkas mengatakan petugas mengetahui kebocoran pada Jumat (9/10/2026) sekitar pukul 20.20 WITA.
“Untuk penanganannya saat ini terjadi kebocoran pada pipa transmisi utama berdiameter 1.200 milimeter. Kebocoran terjadi tadi malam sekitar pukul 20.20 WITA. Hari ini kami melakukan persiapan pekerjaan, menunggu alat berat berupa ekskavator tiba di lokasi. Untuk material dan suku cadang perbaikan, alhamdulillah sudah tersedia,” kata Wahyu di lokasi kebocoran, Sabtu (10/10/2026).
BPAM Banjarbakula kemudian melakukan survei kondisi lapangan, mengecek pipa, serta menyiapkan alat berat dan material untuk memperbaiki kerusakan.
Salah satu material yang disiapkan yakni ripper clamp. Setelah ekskavator tiba dan seluruh persiapan teknis selesai, petugas akan langsung mengerjakan perbaikan berdasarkan kondisi pipa di lapangan.
Perbaikan Bisa Sampai 10 Hari
Wahyu memperkirakan proses perbaikan membutuhkan waktu sekitar 5-10 hari. Waktu tersebut mencakup pengerjaan teknis hingga memastikan jalur transmisi kembali aman untuk beroperasi.
“Estimasi penanganan sekitar 5 sampai 10 hari. Setelah pekerjaan selesai dan kondisi jalur dinyatakan aman, pasokan air baku dari jalur utama akan kita pulihkan secara bertahap,” ujarnya.
Selama pipa utama diperbaiki, BPAM Banjarbakula mengoptimalkan Intake Darurat dengan kapasitas sekitar 120 liter per detik.
Intake tersebut menjadi jalur sementara untuk menjaga pasokan air baku tetap berjalan di tengah gangguan pada pipa utama.
“Kami berupaya agar pengoperasian tetap berjalan melalui intake darurat. Memang ada gangguan karena kebocoran terjadi pada pipa utama, tetapi kami terus mengoptimalkan sistem yang tersedia agar pasokan air baku tetap dapat berjalan selama perbaikan,” jelas Wahyu.
BPAM Banjarbakula juga mengatur aliran dan menyiapkan langkah operasional pendukung melalui koordinasi dengan pihak terkait.
Ajukan Revitalisasi Pipa
Kebocoran pipa utama turut memengaruhi operasional distribusi air baku. Karena itu, BPAM Banjarbakula tidak hanya fokus memperbaiki kerusakan saat ini, tetapi juga menyiapkan langkah pencegahan jangka panjang.
BPAM Banjarbakula telah mengusulkan revitalisasi jaringan pipa air baku kepada Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Pemerintah berharap revitalisasi tersebut bisa terealisasi pada 2027.
Menurut Wahyu, revitalisasi penting untuk mengurangi risiko kebocoran berulang dan meningkatkan keandalan sistem transmisi air baku Banjarbakula.
“Revitalisasi menjadi salah satu upaya penting untuk mengurangi risiko kebocoran berulang di titik yang sama. Dengan pembenahan infrastruktur tersebut, keandalan sistem transmisi air baku diharapkan semakin terjaga,” katanya.
BPAM Banjarbakula meminta masyarakat memahami proses perbaikan yang sedang berlangsung. Pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf atas gangguan yang muncul akibat kebocoran pipa.
Petugas akan terus memantau kondisi sistem dan mengoptimalkan jalur yang tersedia hingga perbaikan pipa utama selesai dan operasional kembali normal. (L212)

