BerandaBANUABanjarmasinDari Bahan Mentah Menuju Industri Bernilai Tambah, Kalsel Bersiap Menjadi Magnet Investasi

Dari Bahan Mentah Menuju Industri Bernilai Tambah, Kalsel Bersiap Menjadi Magnet Investasi

LANGKAR.ID, BANJARMASIN – Kalimantan Selatan menghadapi persoalan besar di tengah geliat investasinya. Nilai investasi terus meningkat, tetapi struktur ekonomi daerah masih kuat bergantung pada sektor pertambangan dan komoditas sumber daya alam.

Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan realisasi investasi menembus lebih dari Rp32 triliun pada 2025. Namun, sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar, disusul jasa, perdagangan, dan reparasi.

Kondisi itu menimbulkan pekerjaan rumah. Besarnya investasi belum otomatis berarti semakin panjangnya rantai nilai ekonomi di dalam daerah.

Sebagian besar kekayaan alam Kalsel masih berangkat dari Banua dalam bentuk komoditas. Sementara peluang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah masih harus terus diperkuat.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah kini menghadapi tantangan ganda: mempertahankan pertumbuhan investasi sekaligus mengubah arah investasi agar tidak hanya mengeksploitasi sumber daya, tetapi juga membangun industri pengolahan dan menciptakan nilai tambah di daerah.

Persoalannya semakin penting ketika Kalsel menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

Karena itu, pemerintah mulai menata fondasi baru. Infrastruktur, kawasan industri, kemudahan perizinan, hingga penguatan hilirisasi dipersiapkan untuk mengubah wajah ekonomi Banua.

Perubahan besar itu bahkan dimulai dari sebuah rencana pembangunan yang secara fisik terlihat sederhana: menghubungkan sebuah pulau dengan daratan Kalimantan.

Rencana pembangunan jembatan penghubung Pulau Laut dengan daratan Kalimantan menjadi salah satu bagian dari visi besar tersebut. Bersama rencana pelabuhan laut dalam di Mekar Putih, proyek ini diproyeksikan memperkuat konektivitas sekaligus membuka jalur baru bagi arus barang dan investasi.

Di balik pembangunan fisik itu, tersimpan agenda yang lebih besar: mengubah cara Kalsel mengelola kekayaan alamnya.

Selama bertahun-tahun, perekonomian Banua bertumpu pada sektor berbasis sumber daya alam. Batu bara, kelapa sawit, karet, dan hasil perikanan menjadi bagian penting dari denyut ekonomi daerah.

Kini, pemerintah ingin mendorong perubahan.

Kalsel tidak ingin selamanya berhenti pada aktivitas mengambil dan mengirim bahan mentah. Komoditas yang keluar dari Banua diharapkan telah melalui proses pengolahan sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Transformasi itu sekaligus menjadi upaya memperkuat fondasi investasi dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kalimantan Selatan, Suprapti Tri Astuti, menyebut pembangunan infrastruktur menjadi salah satu fondasi penting untuk mewujudkan arah tersebut.

“Pembangunan jembatan dan pelabuhan internasional Mekar Putih adalah prasyarat menjadikan Kalsel sebagai gerbang logistik Kalimantan,” ujar Suprapti saat ditemui di kantornya, Selasa (11/8/2026).

Pernyataan itu menggambarkan ambisi yang lebih besar dari sekadar membangun konektivitas antardaerah. Infrastruktur diharapkan menjadi pintu masuk bagi terbentuknya ekosistem industri yang saling terhubung.

Kawasan industri Batulicin, Jorong, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Setangga dipersiapkan menjadi bagian dari mata rantai tersebut. Sementara KEK Mekar Putih mulai memasuki proses realisasi dan diarahkan menjadi sentra industri pengolahan berbasis potensi lokal.

Jika seluruh simpul tersebut terhubung, Kalsel tidak hanya memiliki bahan baku. Daerah ini juga memiliki jalur logistik, kawasan industri, dan pasar yang dapat menjadi pertimbangan penting bagi investor.

Investasi Tumbuh, Tantangan Belum Usai

Peluang tersebut bukan sekadar proyeksi di atas kertas. Angka realisasi investasi menunjukkan geliat yang terus tumbuh.

Data DPMPTSP Provinsi Kalimantan Selatan mencatat realisasi investasi meningkat dalam empat tahun terakhir.

Pada 2022, nilainya mencapai Rp15 triliun. Setahun kemudian meningkat menjadi Rp19 triliun. Angka itu kembali naik menjadi Rp24 triliun pada 2024, sebelum menembus lebih dari Rp32 triliun pada 2025.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa Kalsel memiliki daya tarik bagi dunia usaha.

Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Kotabaru, dan Kota Banjarmasin menjadi beberapa daerah dengan kontribusi investasi terbesar.

Namun, ada catatan penting di balik angka tersebut.

Investasi Kalsel masih didominasi sektor pertambangan.

Artinya, pekerjaan rumah Kalsel bukan semata mendatangkan lebih banyak modal. Tantangan berikutnya adalah mengarahkan investasi agar semakin beragam, memperkuat industri pengolahan, serta menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam daerah.

Kepala DPMPTSP Provinsi Kalimantan Selatan, Endri, mengatakan peningkatan investasi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Peningkatan investasi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ini juga sejalan dengan program nasional dalam memperkuat ekonomi daerah,” ujar Endri dikantornya, Senin (11/8/2026)

Menurut dia, Kalsel memiliki sejumlah modal untuk menarik investor. Posisi strategis sebagai jalur perdagangan nasional dan internasional, pembangunan infrastruktur yang terus berjalan, ketersediaan sumber daya alam, serta tenaga kerja produktif menjadi sejumlah keunggulan daerah.

Namun, daya tarik investasi tidak cukup hanya dengan menawarkan sumber daya. Investor juga membutuhkan kepastian.

Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong penyederhanaan layanan perizinan. Regulasi diarahkan untuk memberikan kepastian hukum sekaligus menghadirkan pelayanan yang cepat, transparan, dan akuntabel.

“Komitmen pemerintah daerah dalam memberikan kemudahan perizinan menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif,” katanya.

Dari Tambang Menuju Nilai Tambah

Jika investasi adalah bahan bakar pertumbuhan, hilirisasi menjadi salah satu arah perjalanan yang ingin ditempuh Kalsel.

Pemerintah mendorong pengembangan industri pengolahan kelapa sawit, karet, perikanan, hingga pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan produk turunan.

Gagasannya sederhana, tetapi dampaknya bisa panjang.

Ketika bahan mentah diolah di daerah, nilai ekonomi tidak seluruhnya berhenti di titik produksi awal. Proses pengolahan menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja, transportasi, pergudangan, jasa, perdagangan, hingga usaha pendukung lainnya.

Rantai ekonomi pun menjadi lebih panjang.

Karena itu, hilirisasi tidak sekadar berbicara tentang membangun pabrik. Ia menyangkut bagaimana sebuah komoditas mampu menghidupkan lebih banyak mata rantai ekonomi di daerah asalnya.

“Tujuan kita tidak lagi sekadar ekspor bahan mentah. Kita ingin menciptakan nilai tambah di dalam daerah, membuka lapangan kerja, dan menjaga keberlanjutan sumber daya,” tegas Suprapti.

Bagi Kalsel, perubahan tersebut menjadi penting karena kekayaan sumber daya alam memiliki batas.

Pertumbuhan ekonomi yang hanya mengandalkan eksploitasi komoditas akan menghadapi tantangan ketika harga komoditas berfluktuasi atau cadangan sumber daya semakin terbatas.

Karena itu, diversifikasi ekonomi menjadi kebutuhan.

Kalsel membutuhkan lebih banyak industri pengolahan, lebih banyak sektor jasa, serta lebih banyak ruang bagi usaha baru untuk tumbuh.

Ketika Investor dan Pemerintah Harus Berjalan Bersama

Dorongan untuk memperkuat investasi juga mendapat perhatian Bank Indonesia.

Dalam ajang Pamor Borneo 2026, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menekankan pentingnya kolaborasi untuk mempercepat realisasi investasi sekaligus mencari solusi atas berbagai hambatan yang masih dihadapi investor di Kalimantan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan membutuhkan sinergi lintas pihak. Pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya perlu bergerak dalam arah yang sama.

“Dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan, dibutuhkan sinergi yang disertai dengan niat yang mulia serta memastikan manfaat bagi masyarakat Indonesia secara luas,” ujar Aida. Jumat (7/8/2026)

Ia mengapresiasi berbagai sinergi pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempercepat realisasi investasi.

Pesan tersebut menjadi penting bagi Kalsel.

Sebab, membangun iklim investasi bukan hanya persoalan menawarkan lahan atau sumber daya alam. Di dalamnya terdapat persoalan konektivitas, perizinan, kepastian hukum, sumber daya manusia, pembiayaan, hingga kesiapan masyarakat sekitar.

Semua mata rantai itu harus bertemu.

Menanam Investasi, Memanen Manfaat

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi ekonomi Kalsel tidak hanya dapat diukur dari besarnya nilai investasi yang masuk.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa besar manfaat investasi tersebut kembali kepada masyarakat?

Apakah investasi mampu menciptakan lapangan kerja?

Apakah bahan baku lokal dapat diolah di Banua?

Apakah usaha mikro, kecil, dan menengah ikut masuk dalam rantai pasok industri?

Dan yang tidak kalah penting, apakah pertumbuhan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pekerjaan rumah di tengah ambisi Kalsel mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Pembangunan infrastruktur dan kawasan industri memang dapat membuka pintu. Namun, kualitas investasi akan menentukan apa yang terjadi setelah pintu itu terbuka.

Kalsel kini memiliki modal yang cukup kuat: sumber daya alam, posisi geografis yang strategis, infrastruktur yang terus berkembang, serta tren investasi yang meningkat.

Tantangannya adalah mengubah seluruh modal tersebut menjadi ekosistem ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Dari batu bara menjadi produk turunan.

Dari sawit menjadi industri pengolahan.

Dari karet dan hasil laut menjadi produk bernilai lebih tinggi.

Dan dari sekadar menjadi daerah penghasil bahan mentah, Kalsel ingin tumbuh sebagai daerah yang mampu mengolah, menciptakan, dan menikmati nilai tambahnya sendiri.

Jembatan Pulau Laut dan pelabuhan Mekar Putih kelak mungkin hanya akan terlihat sebagai konstruksi beton dan baja.

Namun, di baliknya ada harapan yang jauh lebih besar: menghubungkan sumber daya dengan industri, industri dengan investasi, dan investasi dengan kesejahteraan masyarakat.

Sebab, pada akhirnya, investasi bukan sekadar tentang berapa banyak modal yang datang ke Banua.

Investasi adalah tentang seberapa banyak masa depan yang bisa tumbuh setelah modal itu ditanamkan. (Elsa)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

BACA JUGA