BerandaBANUABanjarmasinNGERI! RACUN ASAP KARHUTLA: ANCAMAN SERIUS BAGI KESEHATAN MASYARAKAT

NGERI! RACUN ASAP KARHUTLA: ANCAMAN SERIUS BAGI KESEHATAN MASYARAKAT

Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes.
Guru Besar bidang Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan, Universitas Lambung Mangkurat

LANGKAR.ID,BANJARMASIN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan lingkungan. Ketika api melahap vegetasi dan lahan gambut, asap yang dihasilkan dapat menyebar ke permukiman dan wilayah yang jauh dari titik kebakaran. Dampaknya tidak berhenti pada terganggunya jarak pandang, tetapi juga dapat mengancam kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari.

Asap karhutla perlu mendapat perhatian serius karena mengandung campuran gas dan partikel pencemar. Salah satu komponen yang menjadi perhatian utama adalah partikel halus PM2.5, yaitu partikel dengan diameter aerodinamis 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mencapai bagian dalam paru-paru.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan mengandung campuran berbagai senyawa pencemar. Sekitar 90 persen dari total massa partikel yang dilepaskan dalam kebakaran hutan dapat berupa PM2.5. Angka ini merujuk pada massa partikel, bukan berarti 90 persen dari seluruh komponen asap adalah PM2.5.
Karena itu, kabut asap tidak boleh dianggap sekadar gangguan musiman yang akan hilang dengan sendirinya.

Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, sesak napas, serta memperburuk penyakit yang sudah ada, terutama asma dan penyakit jantung maupun paru-paru. Paparan dengan tingkat tinggi juga berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan serius dan kematian dini.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan. Namun, bukan berarti masyarakat di luar kelompok tersebut sepenuhnya aman. Risiko kesehatan dipengaruhi oleh konsentrasi pencemar, lamanya paparan, kondisi individu, dan kemampuan untuk menghindari udara tercemar.

*Karhutla dan perubahan kondisi iklim*

Kondisi iklim dapat memperbesar risiko kebakaran ketika suhu tinggi, curah hujan rendah, dan vegetasi atau lahan menjadi lebih kering. BMKG pada September 2026 menyampaikan bahwa El Niño sangat kuat sedang terjadi dan awal musim hujan 2026/2027 diprediksi mundur di banyak wilayah Indonesia. Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam perencanaan mitigasi karhutla.
Meski demikian, El Niño tidak boleh diperlakukan sebagai satu-satunya penyebab kebakaran. Risiko karhutla juga berkaitan dengan kondisi lahan, pengelolaan kawasan, aktivitas manusia, tata kelola lingkungan, dan efektivitas pencegahan serta penegakan hukum.

Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan pendekatan lintas sektor yang menyatukan informasi iklim, pengawasan lapangan, pengelolaan lahan, dan perlindungan masyarakat.

Melindungi masyarakat dari paparan asap
Ketika kualitas udara memburuk, langkah perlindungan harus disesuaikan dengan kondisi setempat dan informasi resmi kualitas udara.

Masyarakat perlu mengurangi aktivitas berat di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi partikel halus tinggi. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih besar.
Jika memungkinkan, tutup pintu dan jendela ketika asap masuk dari luar, serta gunakan ruang dengan udara yang lebih bersih.

Pembersih udara dengan penyaring partikel yang sesuai dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel di dalam ruangan.

Namun, efektivitasnya bergantung pada jenis alat, ukuran ruangan, perawatan, dan kondisi bangunan.
Masker respirator seperti N95 atau yang memiliki standar setara dapat membantu menyaring partikel halus jika digunakan dengan benar dan memiliki kecocokan yang baik pada wajah. Masker jenis ini tidak otomatis melindungi pemakainya dari semua gas berbahaya dalam asap. Oleh sebab itu, masker tidak boleh dijadikan satu-satunya bentuk perlindungan ketika paparan sangat tinggi.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa suplemen vitamin bukan penawar atau pengganti perlindungan dari asap. Prioritasnya adalah mengurangi paparan, memperbaiki kualitas udara yang dihirup, mengikuti informasi resmi, dan mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala berat seperti sesak napas, nyeri dada, atau penurunan kesadaran.
Pencegahan tidak cukup dilakukan setelah asap menyelimuti permukiman
Penanganan karhutla harus mengutamakan pencegahan dan kesiapsiagaan, bukan hanya pemadaman ketika kebakaran telah meluas. Pemerintah daerah, instansi kesehatan, lembaga lingkungan, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, media, dan masyarakat perlu bekerja dalam satu sistem yang saling terhubung.
Informasi cuaca dan potensi kekeringan harus diikuti dengan pemantauan titik panas, pemeriksaan kondisi lapangan, kesiapan sumber daya pemadaman, serta penyampaian informasi risiko kepada masyarakat. Di sisi kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan perlu menyiapkan pemantauan keluhan pernapasan dan kardiovaskular, terutama di wilayah yang terdampak asap.
Sistem peringatan dini kesehatan juga layak dikembangkan agar peningkatan pencemaran udara dapat dihubungkan dengan langkah perlindungan yang jelas. Misalnya, ketika kualitas udara mencapai kategori berbahaya, masyarakat memperoleh imbauan yang mudah dipahami mengenai aktivitas luar ruangan, perlindungan kelompok rentan, dan akses ke layanan kesehatan. Sistem seperti ini perlu didukung indikator yang terukur, data yang dapat dipercaya, pembagian tanggung jawab, serta evaluasi berkala.

Membangun pendekatan terpadu dan berbasis kearifan lokal
Upaya penanggulangan karhutla perlu menggabungkan ilmu pengetahuan, tata kelola lingkungan, partisipasi masyarakat, dan kearifan lokal. Pendekatan yang dikembangkan penulis, yaitu Manugal System Approach, dapat menjadi bagian dari gagasan tersebut apabila memiliki penjelasan konsep, dasar ilmiah, mekanisme pelaksanaan, serta bukti atau dokumentasi yang mendukung efektivitasnya.

Kearifan lokal perlu ditempatkan sebagai sumber pengetahuan dan modal sosial yang dapat memperkuat pencegahan. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi ekologi, ketentuan hukum, dan hasil evaluasi di lapangan. Dengan demikian, pendekatan lokal tidak hanya menjadi slogan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah yang jelas dan dapat dinilai manfaatnya.
Asap karhutla adalah persoalan bersama
Kabut asap mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan dapat berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat. Ketika kualitas udara menurun, masyarakat membutuhkan informasi yang akurat, peringatan yang tepat waktu, dan perlindungan yang bisa diakses. Pada saat yang sama, pencegahan kebakaran harus dilakukan secara konsisten dengan mengatasi faktor penyebabnya, bukan hanya menangani dampaknya.
Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat kerja bersama, mulai dari pencegahan dan pengawasan hingga pemadaman, pemulihan lingkungan, dan perlindungan kesehatan. Masyarakat pun memiliki peran dengan tidak melakukan pembakaran terbuka, melaporkan indikasi kebakaran, serta mengikuti arahan resmi ketika terjadi pencemaran udara.
Jangan menunggu asap semakin pekat untuk bertindak. Pencegahan karhutla, pengendalian pencemaran, dan perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan bersamaan. Sebab, udara bersih bukan sekadar kebutuhan lingkungan, melainkan bagian mendasar dari hak masyarakat untuk hidup sehat. L123

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

BACA JUGA