LANGKAR.ID, JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menyebut penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 memicu perputaran ekonomi nasional lebih dari Rp5,03 triliun. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga mengalir ke pelaku UMKM, sektor perhotelan, restoran, kafe, hingga industri kreatif di berbagai daerah.
Berdasarkan kajian KADIN Indonesia, perputaran ekonomi berasal dari aktivitas penyiaran, belanja iklan, sponsorship, promosi produk, penjualan perangkat elektronik dan merchandise, transaksi sektor hotel, restoran, dan kafe (HOREKA), kegiatan nonton bareng (nobar), hingga Festival Rakyat 2026.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo Wicaksono, mengatakan Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa ajang olahraga internasional mampu menggerakkan ekonomi lintas sektor.
“Piala Dunia 2026 tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan besar dan pemilik merek nasional, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi bagi hotel, restoran, kafe, pedagang makanan, pelaku industri kreatif, penyedia jasa, hingga UMKM di berbagai daerah,” kata Kukrit, Rabu (15/7).
Ia menilai keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga penyiaran publik, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat.
KADIN mencatat nilai ekonomi itu berasal dari sekitar Rp1,76 triliun aktivitas promosi melalui iklan on-air, Rp850 miliar kegiatan komersial off-air, serta sekitar Rp2,4 triliun dari sektor HOREKA. Sisanya berasal dari berbagai kegiatan pendukung, termasuk Festival Rakyat 2026.
Selain perputaran ekonomi langsung, KADIN memperkirakan Piala Dunia 2026 juga menciptakan efek pengganda. Pelaku usaha meningkatkan investasi untuk membeli televisi, proyektor, set-top box, sistem audio, hingga memperluas kapasitas tempat duduk dan layanan makanan serta minuman.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan kinerja sektor akomodasi, makanan, dan minuman yang tumbuh 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026, menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi.
Partisipasi Publik Dongkrak Belanja Masyarakat
Survei Lokadata terhadap 1.176 responden di 10 wilayah Indonesia pada 7–13 Juli 2026 menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat selama Piala Dunia berlangsung.
Sebanyak 78,1 persen responden mengikuti kegiatan nobar sedikitnya satu kali. Rata-rata mereka mengeluarkan sekitar Rp51 ribu setiap kali nobar atau sekitar Rp145 ribu selama turnamen.
Pengeluaran tersebut didominasi pembelian makanan, minuman, paket data, dan kebutuhan pendukung lainnya sehingga ikut menggerakkan ekonomi pelaku UMKM.
Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, mengatakan hasil survei menunjukkan sentimen positif masyarakat terhadap penyiaran Piala Dunia 2026.
“Strategi TVRI menghadirkan siaran gratis yang mudah diakses dengan jeda iklan terbatas mampu memenuhi harapan masyarakat untuk memperoleh akses informasi dan hiburan berkualitas,” ujarnya.
Survei juga mencatat 79,9 persen responden memberikan penilaian positif terhadap siaran TVRI dan 73 persen mengaku bangga TVRI menjadi penyiar resmi Piala Dunia FIFA 2026.
TVRI: Piala Dunia Hadirkan Hiburan Sekaligus Manfaat Ekonomi
Direktur Utama TVRI, Fiki Satari, mengatakan keberhasilan penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya diukur dari kualitas siaran, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Kami bersyukur penyelenggaraan ini tidak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga menciptakan ruang kebersamaan serta memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di berbagai daerah,” kata Fiki.
Ia mengapresiasi dukungan KADIN, kementerian, lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, komunitas, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan on-air maupun off-air.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor membuktikan bahwa penyiaran publik mampu menjadi penghubung antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sekaligus menjadi penggerak ekonomi nasional melalui ajang olahraga internasional.

