LANGKAR.ID, BANJARMASIN – Tidak semua talenta pelajar mendapat kesempatan tampil di panggung kompetisi nasional. Ada bakat yang tersisih bukan karena kurang hebat, melainkan karena cabang yang mereka kuasai memang tidak dipertandingkan.
Kondisi itulah yang coba dijawab Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin melalui Lomba Olahraga dan Seni Pelajar BAMARA tingkat SMP se-Kota Banjarmasin, Selasa (1/9/2026).
BAMARA hadir sebagai “panggung kedua” bagi para pelajar untuk menunjukkan kemampuan mereka di cabang olahraga dan seni yang belum terakomodir dalam ajang resmi seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), maupun Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI).
Sekitar 800 pelajar dari SMP negeri, SMP swasta hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs) ikut ambil bagian. Mereka tidak hanya datang untuk mengejar gelar juara, tetapi juga membawa kesempatan untuk membuktikan bahwa bakat mereka layak mendapatkan panggung.
Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin mengatakan BAMARA diharapkan menjadi pintu masuk untuk menemukan bibit-bibit unggul daerah.
“Semoga ini bisa melahirkan generasi hebat dan sehat dengan sumber daya manusia yang cerdas dan berkarakter,” kata Yamin usai membuka kegiatan.
Menurutnya, keberadaan BAMARA penting karena memberi ruang lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan sekaligus menyalurkan minat dan bakat yang mereka miliki.
Apalagi, sejumlah cabang yang dipertandingkan justru tidak masuk dalam O2SN. Mulai dari catur, tenis meja hingga seni Madihin yang merupakan salah satu kesenian khas Kalimantan Selatan.
Sementara itu, Kepala Disdik Kota Banjarmasin Ryan Utama mengungkapkan, ide menggelar BAMARA berangkat dari banyaknya potensi pelajar yang belum memperoleh ruang kompetisi melalui ajang yang selama ini tersedia.
“Yang dipertandingkan adalah cabang olahraga dan cabang seni yang tidak masuk O2SN, FLS2N dan FTBI,” ungkap Ryan.
Artinya, BAMARA tidak dimaksudkan untuk menggantikan kompetisi nasional tersebut. Sebaliknya, ajang ini menjadi pelengkap agar semakin banyak talenta pelajar yang bisa teridentifikasi dan dikembangkan.
“Total peserta ada sekitar 800 orang yang meramaikan perlombaan ini,” sebutnya.
Ada tujuh cabang yang dipertandingkan dalam BAMARA. Lima di antaranya merupakan cabang olahraga, yakni senam, catur, tenis meja, futsal dan taekwondo.
Sedangkan di bidang seni, pelajar beradu kemampuan dalam cabang Madihin dan Musik Panting.
“Jadi ada tujuh yang diperlombakan,” imbuh Ryan.
Menurutnya, penyelenggaraan BAMARA sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem pengembangan minat, bakat dan prestasi pelajar, khususnya di jenjang SMP.
Disdik ingin potensi siswa tidak berhenti hanya karena cabang yang mereka tekuni tidak tersedia dalam kompetisi nasional.
Untuk membuat persaingan semakin menarik, Disdik Banjarmasin juga menyiapkan uang pembinaan dengan total mencapai Rp80 juta bagi para pemenang.
“Kami menyiapkan uang pembinaan total mencapai Rp80 juta. Dana tersebut diberikan kepada pemenang nantinya,” tambah Ryan.
BAMARA sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kemeriahan Hari Jadi ke-5 Abad Kota Banjarmasin.
Dengan 800 peserta dan tujuh cabang perlombaan, BAMARA diharapkan mampu menjadi tempat lahirnya bibit-bibit baru.
Sebab, bisa jadi juara berikutnya yang membawa nama Banjarmasin ke level lebih tinggi bukan berasal dari cabang yang selama ini menjadi langganan kompetisi nasional, tetapi justru dari panggung yang baru saja mereka dapatkan di BAMARA. (L212)

