BerandaBANUABanjarmasinFilm Baby Udon Hadir untuk Mereka yang Hampir Menyerah, Banjarmasin Jadi Saksi...

Film Baby Udon Hadir untuk Mereka yang Hampir Menyerah, Banjarmasin Jadi Saksi Pesan Harapan

LANGKAR.ID, BANJARMASIN — Perjalanan promosi film Baby Udon mulai terasa melelahkan bagi Denny Sumargo dan tim. Setelah menyambangi empat kota, energi mereka perlahan terkuras. Namun, suasana berbeda justru mereka rasakan ketika tiba di Banjarmasin.

Antusiasme masyarakat Kota Seribu Sungai terhadap film yang dijadwalkan tayang pada 3 September 2026 itu seolah mengembalikan semangat yang sempat menurun.

Bagi Denny Sumargo, Banjarmasin bukan sekadar kota kelima dalam rangkaian special screening. Respons penonton di kota ini menjadi semacam pengingat bahwa perjalanan panjang yang mereka jalani memiliki alasan.

“Jujur kita sudah agak capek. Tapi setelah melihat antusias warga Banjarmasin, melihat studio merah pas kita mendapat report, semangat aku membara juga,” ujar Denny saat menghadiri special screening Baby Udon di Banjarmasin, Selasa (18/8/2026).

Antusiasme itu bahkan terlihat dari bertambahnya jumlah layar pemutaran. Awalnya hanya disiapkan dua layar, namun permintaan penonton membuat jumlahnya bertambah menjadi tiga.

“Hari ini aku sangat senang karena masyarakat Banjarmasin bisa ikut menikmati. Tadinya dua layar, akhirnya tiga layar,” katanya.

Denny berharap sambutan tersebut menjadi awal yang baik ketika Baby Udon resmi diputar di bioskop pada 3 September mendatang.

“Kita berharap 3 September nanti sembilan layar merah semua Baby Udon di Banjarmasin,” harapnya.

Ketika Produser Harus Turun ke Layar

Di balik perjalanan tersebut, Denny juga membawa tantangan personal. Sebagai produser, ia sebenarnya tidak sejak awal berniat memerankan Hajime Kondoh atau Papa Udon.

Ia justru ingin karakter tersebut dimainkan oleh aktor lain. Namun, setelah cukup lama mencari sosok yang dianggap tepat, Denny akhirnya mengambil keputusan untuk memerankannya sendiri.

“Lebih bagus sebenarnya tidak main, karena sulitnya mencari karakter yang bisa memainkan, maka bebannya jadi ke saya,” ujarnya.

Keputusan itu membuat tanggung jawab Denny semakin besar. Ia harus memastikan proses produksi tetap berjalan, sekaligus menghadirkan karakter Papa Udon dengan emosi yang sesuai dengan kebutuhan cerita.

“Berperan sebagai Papa Udon sulit. Lebih banyak berserah saja. Aku sendiri pribadi waktu itu mencari pemeran Papa Udon susah banget,” katanya.

Bagi Denny, keputusan tersebut juga menjadi pembuktian. Ia ingin melihat apakah dirinya mampu menghidupkan sosok Papa Udon yang selama ini hanya ada dalam bayangannya sebagai produser.

“Tapi di sinilah pembuktiannya. Kita akan lihat nih, bisa tidak karakter Papa Udon itu dihidupkan lewat saya. Jadi nanti kalian bisa saksikan sendiri,” tuturnya.

Fanny dan Perjalanan yang Menguras Emosi

Cerita tentang perjuangan juga dirasakan Caitlin Halderman yang memerankan Fanny Kondoh. Menurut Caitlin, karakter Fanny bukan sosok yang mudah dimainkan karena harus melewati berbagai ujian dalam kehidupannya.

Setiap hari selama proses syuting menjadi tantangan emosional tersendiri.

“Setiap hari itu aku tertantang karena menjadi peran Fanny ini berat banget. Ada saja ujian setelah ujian selalu ada,” ujar Caitlin.

Bahkan, beratnya perjalanan Fanny membuat Caitlin mengaku terkuras secara emosional.

“Setiap hari itu aku berasa capek, pengen tiduran. Pokoknya capek banget sih. Aku nggak kebayang jadi Fanny yang asli ini melewati semuanya,” ungkapnya.

Namun, justru pengalaman itulah yang membuat Caitlin melihat Baby Udon lebih dari sekadar sebuah film.

Film ini mencoba mendekatkan cerita kepada orang-orang yang mungkin sedang menghadapi persoalan serupa dalam kehidupan mereka—mereka yang sedang berjuang mendapatkan momongan, penyintas atau pejuang kanker, orang yang mengalami persoalan kepercayaan dalam hubungan, hingga siapa pun yang sedang berusaha bertahan melewati ujian hidup.

“Lewat film ini masuk ke semua segmen, dari pejuang dua garis, pejuang kanker, yang trust issue sama pasangan, berjuang hidup dan apa pun ujian sabar yang sedang kalian hadapi,” kata Caitlin.

Karena itu, harapan Caitlin terhadap film ini bukan semata-mata agar penonton menikmati ceritanya. Ia ingin Baby Udon menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus menghadapi persoalan hidup seorang diri.

“Aku berharap kalian tidak merasa sendirian. Karena film ini bisa menjadi kekuatan dan harapan buat kalian,” tuturnya.

Pesan itulah yang kemudian dibawa Caitlin kepada masyarakat Banjarmasin menjelang penayangan resmi film tersebut.

Bagi mereka yang sedang galau, menghadapi persoalan dalam hubungan, menjalani perjuangan panjang, atau sekadar membutuhkan cerita yang bisa menguatkan, Caitlin mengajak mereka datang ke bioskop pada 3 September.

“Yang kalian merasa galau, apa pun ujiannya, datang aja nonton film Baby Udon pada 3 September. Karena di situ ada harapan dan jawaban buat kalian semua,” pungkasnya. (L212)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

BACA JUGA