BerandaKESEHATANRiset Internasional: Solusi Nutrisi Khusus Mampu Turunkan Stunting hingga 34,5 Persen

Riset Internasional: Solusi Nutrisi Khusus Mampu Turunkan Stunting hingga 34,5 Persen

LANGKAR.ID, JAKARTA – Masalah stunting dan malnutrisi selama ini tidak hanya berdampak pada tumbuh kembang anak, tetapi juga menjadi beban besar bagi sistem kesehatan nasional.

Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkap kabar menggembirakan. Intervensi nutrisi yang tepat pada anak berisiko gizi kurang dinilai mampu mencegah jutaan kasus stunting sekaligus menghemat biaya kesehatan hingga lebih dari Rp12 triliun.

Temuan tersebut dipresentasikan dalam ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia, melalui penelitian berjudul *A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy*.

Ketua Pharmacoepidemiology Research Group Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., mengatakan penelitian tersebut mengkaji dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau *Nutrient-Dense Formula* (NDF) kepada anak-anak yang mengalami malnutrisi.

“Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5 persen, wasting sebesar 72,7 persen, dan underweight sebesar 51,7 persen,” ujar Akbar Bahar.

Jika diterapkan secara luas, intervensi tersebut diperkirakan mampu mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, serta 1,9 juta kasus underweight pada anak-anak Indonesia.

Tak hanya berdampak pada status gizi, penelitian itu juga menemukan bahwa perbaikan nutrisi dapat menurunkan risiko berbagai penyakit infeksi yang kerap menyerang anak dengan kondisi gizi kurang.

Berdasarkan model penelitian, kasus tuberkulosis (TB) diperkirakan dapat berkurang hingga 47,2 persen, sementara pneumonia turun 44,7 persen. Angka tersebut setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan satu juta kasus pneumonia secara nasional.

Selain itu, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare diprediksi berkurang masing-masing hingga 2,6 juta kasus dan dua juta kasus.

“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik,” kata Akbar.

Menurutnya, intervensi nutrisi seharusnya tidak lagi dipandang sekadar sebagai program bantuan pangan, melainkan investasi kesehatan masyarakat yang memberikan manfaat jangka panjang.

“Karena itu, intervensi nutrisi perlu dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat yang menghasilkan manfaat kesehatan dan ekonomi secara bersamaan,” tegasnya.

Dari sisi ekonomi, dampak yang dihasilkan juga tidak kecil. Penelitian tersebut memperkirakan penghematan biaya pengobatan mencapai Rp2,46 triliun untuk TB, Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk ISPA, dan Rp3,38 triliun untuk diare.

Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, menilai hasil penelitian tersebut menjadi bukti bahwa penanganan malnutrisi tidak hanya menyelamatkan kesehatan anak, tetapi juga dapat mengurangi beban pembiayaan kesehatan negara.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya berpotensi mencegah memburuknya dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan biaya pengobatan di masa depan,” ujarnya.

Ray menilai hasil penelitian tersebut penting sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih berbasis bukti ilmiah. Terlebih, angka stunting di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kalimantan Selatan masih berada pada angka 22,9 persen.

Menurutnya, inovasi nutrisi khusus dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam mempercepat penanganan masalah gizi anak sekaligus mendukung target pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

“Pemenuhan gizi yang optimal merupakan fondasi untuk mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, sehat, dan mampu bersaing menyongsong Indonesia Emas,” tutupnya. (L212)

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

BACA JUGA