LANGKAR.ID,Banjarmasin – Benih padi lokal Kalimantan Selatan (Kalsel), Siam Madu Murakata, mulai menyeberang pulau. Sebanyak 50 kilogram benih varietas unggul lokal itu dibawa ke Papua untuk dikembangkan di lahan sekitar 2 hektare.
Pengembangan ini bukan sekadar untuk meningkatkan produksi pangan. Pemerintah Provinsi Kalsel dan Papua juga ingin menjaga cita rasa khas Banjar yang melekat pada varietas tersebut, terutama bagi masyarakat asal Kalsel yang kini tinggal di Papua.
Rencana pengembangan Siam Madu Murakata di Papua dibahas saat Dinas Pertanian Provinsi Papua berkunjung ke Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBTPH) Kalsel, Jumat (2/10/2026).
Rombongan dipimpin Kepala Dinas Pertanian Provinsi Papua Lunanka V.M.L bersama Kepala Dinas PUPR Provinsi Papua Natirmalus D Renyaan. Mereka diterima Kepala BBTPH Kalsel Sigid Sarsanto bersama jajaran.
Kunjungan tersebut menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Papua untuk mempelajari teknik budidaya Siam Madu Murakata. Varietas lokal Kalsel itu dipilih sebagai salah satu alternatif untuk mendukung peningkatan produksi pertanian dan ketahanan pangan di Papua.
Benih Dijaga Mutunya
Kepala BBTPH Kalsel Sigid Sarsanto mengatakan pihaknya terus memperbanyak benih sumber varietas unggul lokal Siam Madu Murakata melalui Seksi Pengembangan Teknologi Produksi dan Distribusi Benih Tanaman Pangan.
Varietas tersebut telah memiliki Tanda Daftar Varietas Tanaman dengan Nomor SK 2009/PVL/2023.
“Pengembangan benih tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan cita rasa lokal Banjar, tetapi juga memastikan benih memiliki standar mutu yang dapat mendukung produktivitas petani,” kata Sigid.
Menurutnya, proses pengembangan dan sertifikasi benih bertujuan menjaga kualitas genetik serta meningkatkan kemampuan tanaman menghadapi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan kondisi lingkungan.
Benih tersebut juga diarahkan memiliki potensi hasil yang tinggi sehingga dapat memberikan manfaat bagi petani di daerah pengembangan.
Sigid menilai pengembangan varietas lokal di luar daerah menjadi langkah penting untuk memperluas manfaat kekayaan pertanian Kalsel.
“Jadi, varietas lokal tidak hanya menjadi kekayaan pertanian suatu daerah, tetapi juga bisa mendukung produksi dan ketahanan pangan di daerah lain,” ujarnya.
Ada Kerinduan terhadap Pangan Khas Banjar
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Papua Lunanka V.M.L mengatakan pihaknya terus mencari langkah untuk meningkatkan produksi pertanian dan menjaga ketahanan pangan.
Salah satunya dengan memperkenalkan varietas unggul lokal dari daerah lain yang berpotensi dikembangkan di Papua.
Namun, Siam Madu Murakata tidak hanya dipandang dari sisi produksi. Varietas tersebut juga memiliki nilai sosial dan budaya bagi masyarakat asal Kalsel yang bermukim di Papua.
“Kehadiran varietas tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kerinduan masyarakat asal Kalimantan Selatan yang merantau dan menetap di Papua terhadap komoditas pangan yang memiliki cita rasa khas daerah asal,” kata Lunanka.
50 Kg Benih Dibawa ke Papua
Pada tahap awal, sebanyak 50 kilogram benih Siam Madu Murakata dibawa dari Kalsel ke Papua. Benih tersebut akan ditanam di lahan sekitar 2 hektare.
Pengiriman benih antarpulau dilakukan dengan mengikuti ketentuan karantina. Pemeriksaan laboratorium wajib dilakukan untuk memastikan benih memenuhi persyaratan sebelum masuk ke wilayah tujuan.
Ketentuan tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan serta Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023 sebagai aturan pelaksanaannya.
Prosedur karantina menjadi bagian penting untuk menjaga mutu genetik benih sekaligus mencegah organisme pengganggu tumbuhan ikut tersebar ke daerah tujuan.
Pengembangan Siam Madu Murakata di Papua diharapkan menjadi awal kolaborasi antarpemerintah daerah dalam memperluas pemanfaatan sumber daya genetik tanaman pangan.
Bagi Kalsel, langkah tersebut sekaligus membuka jalan agar varietas lokal Banjar tidak hanya dikenal di tanah asalnya, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat di luar daerah. (L212)

