LANGKAR.ID, Banjarmasin – Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kalimantan Selatan (Kalsel) didorong tidak hanya mengejar pendapatan, tetapi juga menjadi wadah bagi siswa untuk membangun usaha sejak dini. Melalui penguatan BLUD, produk dan jasa hasil keterampilan siswa diharapkan semakin dikenal dan mampu bersaing di masyarakat.
Ketua Komisi II DPRD Kalsel, Muhammad Yani Helmi atau Paman Yani, menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti rapat kerja gabungan komisi yang membahas tata kelola BLUD SMK bersama pemerintah daerah, dunia usaha, dan pihak sekolah pada Kamis (1/10/2026).
Menurut Paman Yani, pengelolaan BLUD di sektor pendidikan memiliki tujuan berbeda dengan BLUD di sektor usaha lainnya. Di SMK, keberhasilan BLUD tidak semata-mata diukur dari pendapatan yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuannya membekali siswa agar mandiri dan memiliki jiwa kewirausahaan.
Dia menilai BLUD bisa menjadi sarana bagi siswa untuk mempraktikkan keterampilan yang dipelajari di sekolah sekaligus memperkenalkan produk dan jasa mereka kepada masyarakat luas.
Dengan begitu, hasil karya siswa tidak hanya dimanfaatkan di lingkungan sekolah, tetapi juga berpeluang memberikan nilai ekonomi dan menjadi bekal untuk membangun usaha setelah lulus.
Paman Yani mencontohkan, sejumlah SMK di Kalsel telah menunjukkan kualitas layanan yang mampu bersaing dengan penyedia jasa di luar sekolah. Salah satunya adalah layanan perbengkelan yang bahkan telah dimanfaatkan sejumlah instansi pemerintah untuk merawat kendaraan dinas.
“Kita ingin produk dan jasa yang dihasilkan SMK semakin dikenal masyarakat. Ketika mereka menjual produk atau menawarkan keahlian yang dimiliki, masyarakat tidak ragu untuk menggunakan karena kualitasnya sudah terbukti,” ujarnya.
Dia berharap penguatan tata kelola BLUD SMK dapat membuka lebih banyak peluang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan, mengenal kebutuhan pasar, serta membangun kepercayaan pelanggan.
Dengan pendekatan tersebut, BLUD diharapkan menjadi bagian dari proses pembelajaran kewirausahaan yang nyata. Siswa tidak hanya menguasai keahlian sesuai bidangnya, tetapi juga memiliki pengalaman menghasilkan produk, menawarkan jasa, dan mengelola usaha secara mandiri. (L212)

